Sentralkaltim.id – Pelestarian cagar budaya yang menjadi identitas sejarah dan kebanggaan daerah kembali jadi atensi Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti.
Ia menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kurang memberi perhatian terhadap pelestarian cagar budaya.
Sri Puji menegaskan pentingnya langkah konkret untuk melestarikan berbagai aset budaya yang kini kondisinya memprihatinkan.
Menurutnya, banyak situs dan bangunan bersejarah di Samarinda yang kini telah hilang atau diratakan tanpa meninggalkan jejak, seperti prasasti atau penanda sejarah.
“Kita lihat beberapa bangunan bersejarah sudah tidak ada lagi. Diratakan tanpa meninggalkan prasasti. Ini jadi tanda bahwa kita kurang peduli terhadap sejarah kita sendiri,” ujar politisi dari Partai Demokrat tersebut.
Tak hanya itu, rumah-rumah tua yang berpotensi menjadi cagar budaya juga menghadapi kendala dalam aspek kepemilikan.
Mayoritas dimiliki oleh perseorangan, dan harga pembeliannya terlampau tinggi, sementara alokasi anggaran untuk itu masih sangat terbatas.
“Kalau bangunan itu milik pribadi, tentu perlu dibeli. Tapi kita tidak punya anggaran sebesar itu. Di sinilah pentingnya keberpihakan anggaran dari Pemkot,” ucapnya.
Sri Puji menilai, pelestarian budaya seharusnya menjadi prioritas, karena termasuk dalam urusan wajib pemerintah daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar masyarakat, sesuai amanat undang-undang.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan lingkungan.
Lingkungan kota yang kotor, menurutnya, turut menghambat geliat pariwisata dan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal.
“lPariwisata dan budaya daerah luar lebih tinggi. Padahal kita punya nilai budaya yang tinggi, tapi pemahaman mencintai budaya di Samarinda belum tinggi. Itu juga jadi hambatan,” pungkasnya. (Adv)















