Sentralkaltim.id – SAMARINDA – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU yang menjual Pertalite merupakan dampak dari semakin lebarnya selisih harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai beralih memilih bahan bakar dengan harga yang lebih terjangkau.
Hal itu disampaikan Iswandi saat dimintai tanggapan mengenai fenomena antrean kendaraan di SPBU. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen terjadi setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Ia menjelaskan, sebelumnya perbedaan harga antara Pertalite dan Pertamax masih relatif kecil sehingga sebagian masyarakat masih bersedia menggunakan BBM non-subsidi. Namun kini, selisih harga yang semakin lebar membuat masyarakat lebih memilih Pertalite.
“Kalau kemarin antara harga Pertalite dengan Pertamax hanya beda sekitar Rp2.000, ya masih banyak orang yang memilih Pertamax. Nah sekarang naiknya sudah terasa, makanya sekarang bergeser, kalau bisa dapat Pertalite,” ujar Iswandi pada Senin (29/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab antrean kendaraan di SPBU semakin panjang. Masyarakat berupaya mendapatkan BBM bersubsidi karena dianggap lebih mampu menekan pengeluaran di tengah kenaikan biaya hidup.
“Kenapa sekarang antre? Berarti mereka beli yang murah yaitu Pertalite yang disubsidi. Artinya antrean mengular,” katanya.
Iswandi menilai fenomena tersebut merupakan respons yang wajar dari masyarakat terhadap perubahan harga BBM. Ketika selisih harga semakin besar, masyarakat akan mencari alternatif yang paling ekonomis untuk memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari.
Ia berharap pemerintah dapat mencermati kondisi tersebut sebagai bagian dari dampak kebijakan energi terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, selain menjaga ketersediaan BBM bersubsidi, pemerintah juga perlu memastikan distribusinya berjalan lancar agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa menimbulkan antrean berkepanjangan.















