SENTRALKALTIM.ID, Sangatta — Di banyak desa di Kutai Timur, ternak bukan sekadar sumber pangan, melainkan tabungan keluarga dan penopang ekonomi rumah tangga. Karena itu, program surveilans penyakit hewan yang diperkuat Pemerintah Kabupaten Kutim menjadi ruang perlindungan penting bagi ribuan peternak yang menggantungkan hidup pada ayam, kambing, hingga sapi.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan bahwa setiap sampel yang diambil dari peternakan-perternakan kecil membawa satu tujuan yakni dengan mencegah kerugian besar sebelum terjadi.
“Setiap tahun kami turun memeriksa. Pemeriksaan laboratorium kami lakukan agar peternak tidak tiba-tiba menghadapi wabah tanpa peringatan,” ujarnya.
Di lapangan, petugas membawa rapid test untuk mendeteksi gejala awal pada hewan. Hasilnya memang belum final, tetapi dapat menyelamatkan banyak ternak. “Rapid test itu seperti alarm dini. Kalau reaktif, tim langsung melakukan pemeriksaan lengkap,” jelas Dyah.
Surveilans menjadi pelindung sosial yang krusial, terutama di kecamatan yang jaraknya jauh dari akses layanan kesehatan hewan. Untuk masyarakat yang hidup dari ternak, kehilangan satu ekor saja bisa berdampak besar. “Kami tidak ingin ada peternak yang merugi hanya karena keterlambatan penanganan,” katanya.
Program ini juga mengandalkan keterlibatan penyuluh dan warga untuk melaporkan temuan mencurigakan. Dyah berharap kolaborasi ini semakin kuat karena pengawasan kesehatan hewan bukan hanya urusan pemerintah, tetapi kepentingan bersama.
“Kesehatan hewan adalah bagian dari kesehatan masyarakat. Kalau ternak aman, pangan kita juga aman,” tuturnya.
Dengan pengawasan yang lebih rajin dan pendekatan yang lebih manusiawi, pemerintah ingin memastikan tidak ada keluarga peternak yang kehilangan mata pencaharian akibat wabah yang seharusnya bisa dicegah sejak awal. (ADV/Diskominfo Kutim/—)














