SENTRALKALTIM.ID, Sangatta — Di beberapa desa di Kutai Timur (Kutim), gambaran tentang petani mulai berubah. Anak-anak muda yang sebelumnya melihat sawah sebagai tempat kerja yang berat kini mulai datang, bukan karena dipaksa keadaan, tetapi karena penasaran melihat mesin pertanian canggih bergerak di tengah hamparan lahan.
Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Pemerintah daerah melalui DTPHP Kutim sengaja merancang program modernisasi pertanian untuk menghadirkan ruang yang lebih adil bagi generasi muda agar bisa masuk ke sektor pangan tanpa menghadapi stigma “kerja capek tanpa masa depan”.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan bahwa teknologi menjadi pintu masuk untuk mengoreksi ketimpangan akses yang selama ini membuat anak muda menjauh dari sektor tani.
“Kami ingin mereka merasakan bahwa pertanian hari ini bukan seperti cerita orang tua mereka. Pekerjaan itu bisa dilakukan dengan alat yang lebih aman, lebih ringan, dan jauh lebih efisien,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menurunkan traktor modern, transplanter, serta drone penyemprotan. Bagi banyak anak muda, alat-alat ini terasa lebih bersahabat dibandingkan metode lama.
“Sekarang mengolah tanah itu hanya duduk di kursi traktor. Menanam pun tidak lagi jongkok berjam-jam. Transplanter membuat proses itu lebih manusiawi,” kata Dyah.
Salah satu fasilitas yang paling menarik perhatian generasi muda adalah drone pertanian. Dyah menyebut drone menjadi simbol bahwa pertanian bisa sejalan dengan hobi dan kemampuan digital anak muda masa kini. “Banyak yang bilang, kalau bertani pakai drone, itu baru cocok untuk anak muda. Dan kami memang ingin membuka pintu itu,” jelasnya.
Pemerintah berharap teknologi tidak hanya mempermudah kerja, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri generasi baru untuk mengelola usaha tani sendiri.
“Kami ingin setiap anak muda merasa punya ruang dan dihargai. Pertanian tidak boleh hanya diwariskan, tapi harus diperbarui,” timpal Dyah. (ADV/Diskominfo Kutim/—)














