Scroll untuk baca artikel
Kab. Kutim

Petani Kecil Jadi Prioritas Diskop Kutim dalam Skema Kolektif Gula Aren Genjah

282
×

Petani Kecil Jadi Prioritas Diskop Kutim dalam Skema Kolektif Gula Aren Genjah

Sebarkan artikel ini
Petani Kecil Jadi Prioritas Diskop Kutim dalam Skema Kolektif Gula Aren Genjah

SENTRALKALTIM.ID, Sangatta – Di banyak desa di Kutai Timur (Kutim), gula aren bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, petani kecil menghadapi tantangan untuk mempertahankan pendapatan karena produksi mereka jauh di bawah permintaan pasar. Di sinilah Dinas Koperasi Kutim mulai memperkenalkan sistem kolektif baru guna memberikan ruang lebih besar bagi petani untuk masuk ke rantai ekonomi yang lebih adil.

Kepala Dinas Koperasi Kutim, Teguh Budi Santoso, menggambarkan bahwa sistem kolektif ini dirancang agar produksi dari beberapa kecamatan bisa dihimpun ke satu alur distribusi. Baginya, langkah ini bukan hanya soal efisiensi logistik, tetapi juga memastikan petani dengan kapasitas kecil tidak tertinggal.

“Selama ini mereka bekerja sendiri, sehingga sulit memenuhi permintaan yang besar. Kalau digabungkan, mereka punya peluang yang sama untuk menjual produknya, tanpa dibatasi kemampuan produksi harian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memberi kesempatan bagi petani untuk merasakan manfaat ekonomi yang lebih merata.

Dinas Koperasi juga menekankan pentingnya membangun rasa kepemilikan bersama. Teguh mengatakan bahwa petani di Teluk Pandan, Bengalon, hingga Busang memproduksi gula aren dengan karakter yang berbeda, dan sistem kolektif membantu menyatukan keragaman itu menjadi satu kekuatan ekonomi.

“Keragaman ini jangan dipandang sebagai masalah, tetapi sebagai kelebihan yang justru memperkaya identitas gula aren Kutim,” katanya.

Untuk mendukung upaya ini, pemerintah menyiapkan tahapan pembinaan yang mencakup pelatihan standar kualitas, manajemen produksi, serta strategi pemasaran. Teguh menyebut bahwa pasar nasional semakin terbuka terhadap produk natural seperti gula aren, sehingga Kutim perlu memanfaatkan momentum tersebut.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar mengumpulkan produksi, tetapi mengangkat posisi petani sebagai pelaku utama dalam rantai nilai,” pungkas Teguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *