Scroll untuk baca artikel
Kab. Kutim

Pembinaan Ekspor Kutim Mulai Fokus pada Riset Selera Konsumen Global, Bukan Sekadar Mutu Produk

264
×

Pembinaan Ekspor Kutim Mulai Fokus pada Riset Selera Konsumen Global, Bukan Sekadar Mutu Produk

Sebarkan artikel ini
Pembinaan Ekspor Kutim Mulai Fokus pada Riset Selera Konsumen Global, Bukan Sekadar Mutu Produk

SENTRALKALTIM.ID, Sangatta – Transformasi pola usaha berbasis ekspor di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai diarahkan pada aspek yang selama ini kurang diperhatikan, yakni membaca preferensi konsumen global. Dinas Koperasi Kutim menilai bahwa banyak pelaku UMKM cenderung berkutat pada kualitas internal produk, tetapi belum memetakan apa yang benar-benar dicari pasar internasional. Pergeseran orientasi ini menjadi fokus utama pembinaan ekspor daerah pada 2025.

Kepala Dinas Koperasi Kutim, Teguh Budi Santoso, mengatakan bahwa kebutuhan pasar global tidak bisa ditebak hanya dari pengalaman lokal. Karena itu, pemerintah mulai menghadirkan skema pembinaan yang melibatkan pembeli dari luar negeri sebagai mentor.

“Pendampingan dari negara tujuan sangat membantu. Mereka bisa menerangkan perubahan selera konsumen, standar keamanan pangan, hingga format kemasan yang tepat. UMKM kita bisa belajar langsung dari pihak yang akan membeli,” kata Teguh.

Ia juga menambahkan bahwa proses ini menuntut fleksibilitas pelaku usaha agar tidak terpaku pada selera pribadi.

Teguh menilai masih ada kesenjangan pemahaman di tingkat UMKM terkait cara kerja ekspor. Banyak produk dianggap layak hanya karena sesuai preferensi produsen, tanpa mempertimbangkan regulasi atau tren negara tujuan.

“Ekspor itu logikanya sederhana: kebutuhan konsumen menjadi titik awal. Kalau kita memaksakan versi kita, produk tidak akan masuk,” ujarnya.

Ia mencontohkan hal itu melalui ilustrasi tentang pemenuhan selera pembeli yang harus didahulukan.

Pembinaan yang disusun pemerintah mencakup analisis pasar, segmentasi konsumen, penyesuaian flavor untuk produk olahan, desain kemasan yang adaptif, hingga strategi pemasaran digital berbasis preferensi negara tujuan. Pendekatan tersebut dibuat untuk meminimalkan risiko penolakan produk saat memasuki pasar baru.

Menurut Teguh, pembinaan ini juga ditujukan untuk membangun keberlanjutan usaha. “Kalau UMKM adaptif, pintu ekspor akan terbuka. Tapi kalau tetap kaku, mereka akan tertinggal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *