Scroll untuk baca artikel
Kab. Kutim

DTPHP: Air Jadi Kunci Masa Depan Sawah dan Penghidupan Petani Kutim

280
×

DTPHP: Air Jadi Kunci Masa Depan Sawah dan Penghidupan Petani Kutim

Sebarkan artikel ini
DTPHP: Air Jadi Kunci Masa Depan Sawah dan Penghidupan Petani Kutim

SENTRALKALTIM.ID, Sangatta — Di tengah terus naiknya kebutuhan beras masyarakat, petani di Kutai Timur berada pada persimpangan besar. Pemerintah menargetkan 10.000 hektare sawah aktif untuk memastikan daerah tidak sepenuhnya bergantung pada beras dari luar. Namun minimnya irigasi dan kondisi tanah berbukit membuat petani harus bekerja lebih keras mempertahankan produksi.

Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan bahwa target ini berangkat dari fakta konsumsi tinggi yang tak sebanding dengan produksi lokal. “Satu orang Kutim makan sekitar 114 kilogram beras per tahun. Kalau dihitung, kebutuhan kita lebih dari 45 ribu ton,” ujarnya.

Bagi petani, tantangan terbesar adalah akses air. Dengan dominasi lahan tadah hujan, sebagian besar petani hanya mampu menanam sekali setahun. “Saya sering mendengar keluhan petani yang bilang, ‘Bu, kami mau tanam dua kali, tapi air tidak ada.’ Itu realita yang mereka hadapi,” tutur Dyah.

Selain air, kondisi permukiman yang berjauhan serta lahan berbukit membuat pembangunan irigasi memerlukan biaya besar. Petani di Kaubun, Kombeng, dan Long Mesangat menjadi bagian dari kelompok yang ingin meningkatkan produksi, tetapi masih menunggu dukungan infrastruktur.

“Kalau irigasi sudah ada, mereka bisa menaikkan produksi berkali-kali lipat,” katanya.

Meski demikian, pemerintah memastikan tidak meninggalkan petani berjalan sendiri. Dukungan berupa benih unggul, alat mesin pertanian, serta pembinaaan kelompok tani terus diberikan. “Kami ingin petani merasa bahwa negara hadir, meskipun prosesnya bertahap,” ujar Dyah.

Menurutnya, pembangunan kemandirian beras bukan hanya soal angka produksi, tetapi soal menjaga penghidupan petani. “Kalau sawah bisa produktif dua kali setahun, itu bukan hanya memenuhi konsumsi. Itu menghidupkan keluarga petani,” jelasnya.

Dyah berharap kerja sama pemerintah, petani, dan masyarakat mampu menjadikan Kutim lebih mandiri secara pangan. “Kita tahu ini jalan panjang, tapi setiap langkah kecil akan membawa kita mendekat ke kemandirian,” tutupnya. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *