Scroll untuk baca artikel
Kab. Kutim

Kutim Kendalikan Lonjakan Harga Beras Premium Lewat Penataan Distribusi

265
×

Kutim Kendalikan Lonjakan Harga Beras Premium Lewat Penataan Distribusi

Sebarkan artikel ini
Kutim Kendalikan Lonjakan Harga Beras Premium Lewat Penataan Distribusi

SENTRALKALTIM.ID, Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memilih langkah teknokratis dalam menghadapi kenaikan harga beras premium yang terjadi sejak akhir tahun lalu. Alih-alih sekadar memperbanyak operasi pasar, Pemkab mengarahkan kebijakan pada pembenahan rantai distribusi, yang dinilai sebagai titik krusial pembentuk harga di daerah yang sangat bergantung pada pasokan luar.

Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan evaluasi internal menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada volume stok, tetapi pada struktur biaya yang meningkat pada setiap tahapan distribusi.

“Mulai dari biaya pengapalan, bongkar muat, sampai tarif angkutan darat, semuanya mengalami kenaikan. Karena kita bukan daerah penghasil beras, otomatis harga terbentuk dari ongkos masuk,” ujarnya.

Dony menjelaskan bahwa pemerintah kemudian melakukan serangkaian pertemuan dengan agen beras skala besar yang memasok Kutim dari Surabaya, Sulawesi, dan Samarinda. Dalam pertemuan yang berlangsung beberapa kali itu, Pemkab meminta agen meninjau ulang komponen biaya pengiriman, termasuk efisiensi rute dan sistem pengiriman bertahap.

“Hasil pembicaraan cukup konkret. Setelah beberapa komponen biaya disesuaikan, para agen sepakat menurunkan harga jual mereka. Dampaknya langsung terlihat di pasar,” jelasnya.

Harga beras premium yang sempat menembus Rp19 ribu kini berada pada kisaran Rp16.800–Rp17 ribu. Dony menyebut penurunan ini bukan akhir dari upaya jangka menengah Pemkab. Pengawasan di pasar ditingkatkan, terutama untuk memastikan pedagang tidak mengerek harga melebihi batas kewajaran. Pemerintah juga meminta distributor mempercepat alur masuk stok baru guna menjaga rasa aman konsumen.

“Harga itu sangat dipengaruhi persepsi. Kalau stok terlihat aman, pedagang dan pembeli bergerak lebih rasional,” katanya.

Ia menambahkan, stabilisasi harga di Kutim hanya dapat dicapai melalui efisiensi logistik, mengingat daerah ini belum memiliki produksi beras berskala besar. “Selama distribusi bisa ditekan, harga akan lebih masuk akal. Itulah fokus kami,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *